Diary

Membangun Pribadi Pantang Menyerah

Allah telah menciptakan alam dan isinya berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik antara satu dengan yang lainya. Artinya, kondisi alam ini akan selalu dinamis sesuai kehendak-Nya. Demikian halnya dengan kehidupan manusia, akan mengalami rotasi (perputaran) antara dibawah-di atas, sukses-tidak sukses, bahagisa-susah, dan lain-lain. Begitu juga dengan iman kita. iman bisa datang dan pergi, naik dan turun.

Dalam arti lain, semakin sesorang berada dalam iman yang rendah, maka besar kemungkinan dalam kondisi ini ia akan mengakhiri hidupnya. Sebaliknya, jika seseorang semakin sering berada pada kondisi iman yang tinggi, maka semakin besar peluangnya memperoleh akhir kehidupan yang baik. Pertanyaannya, bagaimana cara mewujudkan kondisi pribadi yang berujung kebaikan – pribadi yang pantang menyerah tersebut?

semakin sesorang berada dalam iman yang rendah, maka besar kemungkinan dalam kondisi ini ia akan mengakhiri hidupnya. Sebaliknya, jika seseorang semakin sering berada pada kondisi iman yang tinggi, maka semakin besar peluangnya memperoleh akhir kehidupan yang baik.

Pribadi pantang menyerah atau tangguh tidak lain adalah sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya, Pribadi tersebut melihat segala sesuatu yang terjadi dari segi positifnya, ia yakin betul bahwa sekenario Allah tidak akan meleset sedikitpun. Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, memperoleh rezeki, dan lain-lain. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, mungkin itu berupa kesedihanm kegagalan, bencana, dan lain-lain, makan ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar.

Islamic women friends shopping together on the weekend

Pribadi sperti inilah yang memosisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas izin dan kehendak Allah. Ia pasrah dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran atau hikmah dari setiap kejadian tersebut. Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik, tetapi lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh serta kuat. Seseorang menjadi lemah karena mentalnya lemah. Begitu juga, sesorang sukses karena ia memiliki keinginan untuk sukses dan seseorang gagal karna ia berbuat gagal.

Jadi manusia yang tangguh dan kuat sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada Tuhan. Menurut M.Ridwan I.R Lubis (1985), ada tiga pengaruh iman, yaitu berupa kekuatan berfikir, kekuatan fisik, dan kekuatan ruh. Senada dengan M. Ridwan, M. Yunan nasution (1976) juga mengungkapkan tentang pengaruh iman terhadap kehidupan manusia. Ia mengatakan bahwa iman akan akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda, menanamkan semangat berani menghadapi maut, membentuk ketentraman jiwa, dan membentuk kehidupan yang lebih baik. Untuk mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita masing-masing . Dan bila kita cermati, pembentukan sifat pribadi pantang menyerah serta tangguh ini sebenarnya berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir pribadi tersebut.

Menyikapi keadaan yang ada sekarang, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Kita harus menjadi pribadi yang pantang menyerah serta tangguh. Untuk itu, dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berfikir positif dan percaya diri. Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Dengan sikap optimis, lanhkah kita akan tegar dalam menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan terhadap sang Pencipta, karna garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya.

Tugas kita hanyalah berusaha, berfikir positif, dan berdoa agar sesuai dengan Ridha-Nya. Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berfikir secara positif dan percaya diri. Lantas, kita harus berfikir positif kepada siapa saja?

Close up of islamic woman portrait

Pertama, berfikir positif kepada Allah. Setiap kejadian, peristiwa, dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab-musababnya. Tugas kita hanya berfikir dan membaca, ada apa di balik semua itu. Lalu, kita ambil pelajaran dari kejadian tersebut, dan selanjutnya mengamalkan hal-hal baik yang dapat diambil dari pelajaran tersebut dalam prilaku keseharian.

Kedua, berfikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Meskipun wajah dan sifat sesorang terkadang mirip dengan orang lain, namun pasti ada perbedaannya. Orang yang kembar identik sekalipun tidak pernah benar-benar sama, ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik tersebut harus kita jaga karena itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita menuju ridha-Nya. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak mengangkatnya?

Setiap manusia dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Meskipun wajah dan sifat sesorang terkadang mirip dengan orang lain, namun pasti ada perbedaannya. Orang yang kembar identik sekalipun tidak pernah benar-benar sama, ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik tersebut harus kita jaga karena itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita menuju ridha-Nya.

Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Ayah kita, ternyata hanya satu yang mampu menembus dinding sel telur (ovum) ibu kita dan membuahinya. Itulah kita, sang juara. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup.

Ketiga, berfikir positif pada orang lain. Orang lain itu adalah manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan, yang tentu hati nuraninya tidak menghendaki hal itu. Pandanglah orang lain dai sisi positifnya saja dan terimalah sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita. Belajarlah dari seekor burung. induk burung dengan sabar mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi. Dalam pengajaran itu, kerap kali sang anak jatuh, tapi sang induk terus mengangkatnya lagi samapi sang anak bisa terbang sendiri. Hati burung juga bersih, tidak mendendam. Pada waktunya bermain, mereka terlihat saling cakar-cakaran, namun di luar itu mereka damai kembali.

About Eka Bayu Nursigit

Nama saya Eka Bayu Nur Sigit, saya yang memiliki hobby menulis dan menggambar art style, saya berumur 30 thn , memiliki impian yang sederhana , membahagiakan keluarga dan menjaga mereka, namun impian yang paling utama bagi saya adalah, membuat semua keluarga saya menyukai membaca karna, membaca membuat pikiran terbuka akan luasnya dunia.
View all posts by Eka Bayu Nursigit →

Leave a Reply